Media Sosial Tidak Bisa Menggantikan Buku
“Lagipula, kalaupun ingin dapat informasi tentang sesuatu, aku tinggal cari di media sosial.” Lanjutnya.
Kukira pernyataan itu bercanda. Otakku bilang kalau dia memang benar-benar sedang bercanda. Tapi saya salah, dia sangat serius.
Aku nggak ngerti di sisi mana orang bisa menyandingkan eksistensi sebuah buku dengan media sosial. Media sosial memang menyediakan konten yang informatif, tapi sangat tidak bisa menandingi kedigdayaan sebuah buku.
Begini maksudku, semua orang punya media sosial. Semua orang bisa menyampaikan informasi di media sosial. Ini merupakan inovasi yang baik dan sekaligus sangat buruk.
Sebaliknya, buku dirancang, disusun, dan ditulis oleh orang yang sangat kompeten di bidangnya. Yuval Noah Harari hanya akan menulis tentang sejarah di bukunya. Dia tidak akan menulis tentang marketing. Penerbit tidak akan menerimanya.
Sedangkan media sosial tidak demikian. Seorang dokter bisa menulis sesuatu tentang agama. Seorang agawan bisa menulis sesuatu tentang hubungan internasional, dan seterusnya. Boleh saja kita percaya, akan tetapi kita kudu tahu bahwa mereka bukanlah pakar di bidangnya.
Makanya, tidak ada alasan untuk tidak membaca buku dan mengganti dengan mencarinya di media sosial. Apalagi sekarang, media sosial sedang kacau karena pertarungan antara fans Korea dengan haters-nya.
Rumit memang.


Posting Komentar untuk " Media Sosial Tidak Bisa Menggantikan Buku"